askep tumor rongga hidung

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa akhirnya kami bisa menyelesaikan sebuah makalah yang berjudul “ Asuhan Keperawatan TUMOR RONGGA HIDUNG ”.Makalah ini dibuat dalam rangka menyelesaikan tugas keperawatan anak 1. Dalam menyelesaikan makalah ini kami mendapatkan saran, petunjuk dan himbauan. Untuk itu pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Terutama kepada Dosen pembimbing mata kuliah KMB 1, kepada teman- teman, dan serta orang tua kami yang selalu membimbing dan memberi motivasi kepada kami, sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik dan lancar.
Sebagai hasil karya manusia biasa, kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kesalahan, jauh dari kekurangan dan kesimpulan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran, pesan, pendapat ataupun kritik yang membangun diri pembaca.Demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya kami mengucapkan puji syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesainya makalah ini “. Maka dari itu kami mengucapkan terima kasih dan berharap agar makalah ini dapat menjadi pedoman dalam kehidupan kita semua semoga berguna ,bermanfaat, dan bisa kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Padang, November 2012

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Tumor hidung dan sinus pranasal. Pada umumnya jarang ditemukan, baik yang jinak maupun yang ganas. Diindonesia dan diluar negeri, kekerapan jenis yang ganas hanya sekitar 1 % dari keganasan seluruh tubuh atau 3% dari seluruh keganasan dikepala dan leher.
Hidung dan sinus pranasal atau juga disebut sinonasal merupakan rongga yang dibatasi oleh tulang-tulang wajah yang merupakan daerah yang terlindung sehingga tumor yang timbul di daerah ini sulit diketahui secara dini. Asal tumor primer juga sulit ditentukan , apakah dari hidung atau sinus karena biasanya pasien berobat dalam keadaan penyakit telah lanjut dan tumor sudah memenuhi rongga hidung dan seluruh sinus.
Data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus berada pada urutan ke 25 dari 50 pola enyakit peringkat utama atau sekitar 102.817 penderita rawat jalan dirumah sakit.
Survei kesehatan indera penglihatan dan pendengaran 1996 yang diadakan oleh binkesmas bekerja sama dengan PERHATI dan bagian THT RSCM mendapatkan data penyakit hidung dari 7 profinsi data dari devisi rinologi departemen THT RSCM januari-agustus 2005 menyebutkan jumalah pasien pada kurun waktu tersebut adalah 435 paien dari jumlah tersebut 30 % mempunyai indikasi operasi BSEF.

B. Tujuan
 Tujuan umum
Mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan diagnosa medis tumor rongga hidung

 Tujuan Khusus
• Mahasiswa mengetahui pengkajian pada pasien tumor rongga hidung
• Mahasiwa mengetahui diagnosa yang muncul pada pasien tumor rongga hidung
• Mahasiswa mengetahui intervensi yang dapat diberikan pada pasien tumor rongga hidung
• Mahasiswa dapat melakukan implementasi sesuai intervensi yang telah dibuat pada pasien tumor rongga hidung
• Mahasiswa dapat mengevaluasi pasien tumor rongga hidung.

BAB II

TINJAJUAN TEORITIS

A. Definisi
Tumor rongga hidung adalah pertumbuhan ke arah ganas yang mengenai hidung dan lesi yang menyerupai tumor pada rongga hidung, termasuk kulit dari hidung luar dan vestibulum nasi

B. Etiologi
Insiden tertinggi tumor ganas hidung dan sinus ditemukan dijepang yaitu 2 per 10.000 penduduk pertahun. Dibagian THT FKUI-R S C M, keganasan ini ditemukan pada 10,1 % dari seluruh tumor ganas THT. Rasio penderita laki-laki dibanding wanita sebesar 2:1.
Etiologi tumor ganas hidung belum diketahui, tetapi diduga beberapa zat hasil industri merupakan penyebab antara lain nikel, debu kayu, kulit, formaldehid, kromium, minyak isopropyl dan lain-lain. Pekerja dibidang ini mendapatkan kemungkinan terjadi keganasan hidung dan sinus jauh lebih besar.
Banyak laporan mengenai kasus adeno-karsinoma sinusetmoid pada pekerja-pekerja industri penggergajian kayu dan pembuatan mebel. Alkohol, asap rokok, makanan yang diasin atau diasap diduga meningkatkan kemungkinan terjadi keganasan, sebaliknya buah-buahan dan sayuran mengurangi kemungkinan terjadi keganasan.
Di Amerika Serikat, insidensi tumor hidung tiap tahun kurang dari 1:100.000 penduduk, yang menyumbang sekitar 3 % kanker dari saluran pernapasan atas. Dijepang Serikat, insidensi tumor hidung tiap tahun kurang dari 1:100.000 penduduk, yang menyumbang sekitar 3 % kanker dari saluran pernapasan atas. Dijepang dan uganda, frekuensi tumor ini 2 kali lebih tinggi dibandingkkan dengan Amerika Serikat.
Rousch (1999) memperkirakan bahwa di atas 80 % dari semua tumor ganas pada manusia dihubuungkan dengan lingkungan. Bagaimanapun perkiraan ini kemungkinan tinggi, bukti adanya penyebab lingkungan dari tumor hidung terutama pada pasien-pasien yang terpapar nikel, resiko kanker meningkat pada tukang kayu, tukang sepatu dan boot.
Sekitar 55 % tumor hidung dan sinus berasal dari sinus maxillary, 35 % dari kavum nasi, 9 % sinus ethmoid, dan 1 % sinus frontal dan sphenoid dan septum. Untuk tumor yang besar , asal tumor sulit untuk diidentifikasi.

C. Klasifikasi Histopatologi
a. Tumor jinak:
• Dari jaringan lunak : fibroma, neurofibroma, meningioma
• Dari jaringan tulang : osteoma, giant cell tumor, displasia fibrosa/ossifying fibrome.
• Odontogenik : kista-isata gigi, ameloblastoma.

b. Tumor pra ganas:
• Inverted papilloma

c. Tumor ganas:
• Dari epitel : karsinoma sel skuamosa, limfoepitelioma, karsinoma sel basal, silindroma dsb.
• Dari jaringan ikat : fibrisarkoma, rabdomiosarkoma.
• Dari jaringan tulang/tulang rawan: osteosarkoma, kondrosarkoma.

Hampir seluruh jenis histopatologi tumor jinak dan ganas dapat tumbuh didaerah sinonasal. Termasuk tumor jinak epitelial yaitu adenoma dan papiloma, yang non epitelial yaitu fibroma, angiofibroma, hemangioma,neurilemomma, osteoma, displasia fibrosa dan lain-lain.

D. Gejala Klinis
Gejala dini tidak khas, pada stadium lanjut tergantung asal tumor dan arah perluasannya.
Gejala hidung:
• Buntu hidung unilateral dan progresif.
• Buntu bilateral bila terjadi pendesakan ke sisi lainnya.
• Skret hidung bervariasi, purulen dan berbau bila ada infeksi.
• Sekret yang tercampur darah atau adanya epistaksis menunjukkan kemungkinan keganasan.
• Rasa nyeri di sekitar hidung dapat diakibatkan oleh gangguan ventilasi sinus, sedangkan rasa nyeri terus-menerus dan progresif umumnya akibat infiltrasi tumor ganas.

Gejala lainnya dapat timbul bila sinus paranasal juga terserang tumor seperti:
 Pembengkakan pipi
 Pembengkakan palatum durum
 Geraham atas goyah, maloklusi gigi
 Gangguan mata bila tumor mendesak rongga orbita.

E. Tanda dan gejala
Gejala tergantung dari asal primer tumor serta arah dan perluasannya. Tumor didalam sinus maxilla biasanya tanpa gejala. Gejala timbul setelah tumor besar, sehingga mendesak atau menembus dinding tulang meluas ke rongga hidung, rongga mulut, pipi, orbita atau intrakranial.
Targantung dari perluasan tumor, gejala dapat dikategorikan sebagai berikut :
1. Gejala nasal
Berupa obstruksi hidung unilateral dan rinorea. Sekretnya sering bercampur darah atau terjadi epistaksis. Tumor yang besar dapat mendesak tulang hidung sehingga terjadi deformitas hidung. Khas pada tumor ganas ingusnya bebau karena mengandung jaringan nekrotik.
2. Gejala orbital
Perluasan tumor kearah orbita menimbulkan gejala diplopia, protosis atau penonjolan bola mata, oftalmoplegia, gangguan viss dan epifora.
3. Gejala oral
Perluasan tumor kerongga mulut menyebabkan penonjolan atau ulkus dipalatum atau diprosesus alveolaris, pasien mengeluh gigi palsunya tidak asli lagi atau gigi geligi goyah. Seringkali pasien datang kedokter gigi karena nyeri di gigi, tetapi tidak sembuh meskipun gigi yang sakit telah dicabut.
4. Gejala fasial
Perluasan tumor kedepan akan menyebabkan penonjolan pipi. Disertai nyeri, anesthesia atau parestesia muka jika mengenai nervus trigeminus.
5. Gejala intrakranial
Perluasan tumor ke intrakranial menyebabkan sakit kepala hebat. Dapat disertai likuorea yaitu cairan otak yang keluar melalui hidung. Jika perluasan sampai ke fossak rani media maka saraf otak lainnya bisa terkena . jika tumor meluas kebelakang, terjadi trismus akibat terkenanya muskulus pterigoideus disertai anestesia dan parestesia daerah yang dipersarafi nervus maksilaris dan mandibularis.

F. Pemeriksaan fisik
Saat memeriksa pasien, pertama-tama diperhatikan wajah pasien apakah terdapat asimetri atau tidak. Selanjutnya periksa dengan seksama kavum nasi dan nasofaring melalui rinoskopia anterior dan superior. Permukaan yang licin merupakan pertanda tumor jinak sedangkan permukaan yang berbenjol-benjol,rapuh dan mudah berdarah merupakan pertanda tmor ganas. Jika dinding lateral kavum nasi terdorong ke medial berarti tumor berada di sinus maksila.

G. Pemeriksaan penunjang
Foto polos berfungsi sebagai diagnosis awal, terutama jika ada erosi tulang dan perselubungan padat unilateral, harus dicurigai keganasan dan dibuat suatu tomogram atau TK . pemeriksaan MRI dapat membedakan jaringan tumor dengan jaringan normal tetapi kurang begitu baik dalam memperlihatkan destruksi tulang. Foto polos toraks diperlukan untuk melihat adanya metastasis tumor diparu.

H. Diagnosis
 Anamnesis yang cermat terhadap gejala klinis.
 Pemeriksaan:
– Inspeksi terhadap wajah, mata, pipi, geraham dan palatum
– Palpasi tumor yang tampak dan kelenjar leher
– Rinoskopi anterior untuk menilai tumor dalam rongga hidung
– Rinoskopi posterior untuk melihat ekstensi ke nasofaring
– Pemeriksaan THT lainnya menurut keperluan.

 Pemeriksaan penunjang:
– Foto sinar X:
o WATER (untuk melihat perluasan tumor di dalam sinus maksilaris dan sinus frontal)
o Tengkorak lateral ( untuk melihat ekstensi ke fosa kranii anterior/medial)
o RHEZZE (untuk melihat foramen optikum dan dinding orbita)
o CT Scan (bila diperlukan dan fasilitas tersedia)

– Biopsi:
o Biopsi dengan forsep (Blakesley) dilakukan pada tumor yang tampak. Tumor dalam sinus maksilaris dibiopsi dngan pungsi melalui meatus nasi inferior. Bila perlu dapat dilakukan biopsi dengan pendekatan Caldwell-Luc. Tumor yang tidak mungkin/sulit dibiopsi langsung dilakukan operasi. Untuk kecurigaan terhadap keganasan bila perlu dilakukan potong beku untuk diperiksa lebih lanjut.

I. Terapi
 Tumor jinak:
Terapi pilihan adalah pembedahan dengan pendekatan antara lain:
1) Rinotomi lateral
2) Caldwell-Luc
3) Pendekatan trans-palatal

 Tumor ganas:
1) Pembedahan:
o Reseksi:
 Rinotomi lateral
 Maksilektomi partial/total (kombinasi eksenterasi orbita atau dengan kombinasi deseksi leher radikal)
o Paliatif: mengurangi besar tumor (debulking) sebelum radiasi.

2) Radiasi:
o Dilakukan bila operasi kurang radikal atau residif
o Pra bedah pada tumor yang radio sensitif (mis. Karsinoma Anaplastik, undifferentiated)

3) Kemoterapi:
o Dilakukan atas indikasi tertentu (mis. Tumor sangat besar/inoperable, metastasis jauh, kombinasi dengan radiasi)

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. pengkajian

a. Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik:
Gejala-gejala khas tergantung ukuran tumor, kegansan dan stadium penyakit, antara lain:
Gejala hidung:
 Buntu hidung unilateral dan progresif.
 Buntu bilateral bila terjadi pendesakan ke sisi lainnya.
 Skret hidung bervariasi, purulen dan berbau bila ada infeksi.
 Sekret yang tercampur darah atau adanya epistaksis menunjukkan kemungkinan keganasan.
 Rasa nyeri di sekitar hidung dapat diakibatkan oleh gangguan ventilasi sinus, sedangkan rasa nyeri terus-menerus dan progresif umumnya akibat infiltrasi tumor ganas.

Gejala lainnya dapat timbul bila sinus paranasal juga terserang tumor seperti:
 Pembengkakan pipi
 Pembengkakan palatum durum
 Geraham atas goyah, maloklusi gigi
 Gangguan mata bila tumor mendesak rongga orbita.

Pada tumor ganas didapati gejala sistemik:
 Penurunan berat badan lebih dari 10 %
 Kelelahan/malaise umum
 Napsu makan berkurang (anoreksia)

Pada pemeriksaan fisik didapatkan:
 Inspeksi terhadap wajah, mata, pipi, geraham dan palatum: didapatkan pembengkakan sesuai lokasi pertumbuhan tumor
 Palpasi, teraba tumor dan pembesaran kelenjar leher

b. Pengkajian Diagnostik:
 Rinoskopi anterior untuk menilai tumor dalam rongga hidung
 Rinoskopi posterior untuk melihat ekstensi ke nasofaring
 Foto sinar X:
– WATER (untuk melihat perluasan tumor di dalam sinus maksilaris dan sinus frontal)
– Tengkorak lateral ( untuk melihat ekstensi ke fosa kranii anterior/medial)
– RHEZZE (untuk melihat foramen optikum dan dinding orbita)
– CT Scan (bila diperlukan dan fasilitas tersedia)
 Biopsi:
– Biopsi dengan forsep (Blakesley) dilakukan pada tumor yang tampak. Tumor dalam sinus maksilaris dibiopsi dngan pungsi melalui meatus nasi inferior. Bila perlu dapat dilakukan biopsi dengan pendekatan Caldwell-Luc. Tumor yang tidak mungkin/sulit dibiopsi langsung dilakukan operasi. Untuk kecurigaan terhadap keganasan bila perlu dilakukan potong beku untuk diperiksa lebih lanjut.

B. diagnosa keperawatan dan intervensi
1) Kecemasan b/d krisis situasi (keganasan), ancaman perubahan status kesehatan-sosial-ekonomik, perubahan fungsi-peran, perubahan interaksi sosial, ancaman kematian, perpisahan dari keluarga.

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Orientasikan klien dan orang terdekat terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan.

2. Eksplorasi kecemasan klien dan berikan umpan balik.

3. Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang lazim dialami oleh banyak orang dalam situasi klien saat ini.

4. Ijinkan klien ditemani keluarga (significant others) selama fase kecemasan dan pertahankan ketenangan lingkungan.

5. Kolaborasi pemberian obat sedatif.

6. Pantau dan catat respon verbal dan non verbal klien yang menunjukan kecemasan.

Informasi yang tepat tentang situasi yang dihadapi klien dapat menurunkan kecemasan/rasa asing terhadap lingkungan sekitar dan membantu klien mengantisipasi dan menerima situasi yang terjadi.

Mengidentifikasi faktor pencetus/pemberat masalah kecemasan dan menawarkan solusi yang dapat dilakukan klien.

Menunjukkan bahwa kecemasan adalah wajar dan tidak hanya dialami oleh klien satu-satunya dengan harapan klien dapat memahami dan menerima keadaanya.

Memobilisasi sistem pendukung, mencegah perasaan terisolasi dan menurunkan kecemsan.

Menurunkan kecemasan, memudahkan istirahat.

Menilai perkembangan masalah klien.

2) Gangguan harga diri b/d kelainan bentuk bagian tubuh akibat keganasan, efek-efek radioterapi/kemoterapi.

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Diskusikan dengan klien dan keluarga pengaruh diagnosis dan terapi terhadap kehidupan pribadi klien dan aktiviats kerja.

2. Jelaskan efek samping dari pembedahan, radiasi dan kemoterapi yang perlu diantisipasi klien

3. Diskusikan tentang upaya pemecahan masalah perubahan peran klien dalam keluarga dan masyarakat berkaitan dengan penyakitnya.

4. Terima kesulitan adaptasi klien terhadap masalah yang dihadapinya dan informasikan kemungkinan perlunya konseling psikologis

5. Evaluasi support sistem yang dapat membantu klien (keluarga, kerabat, organisasi sosial, tokoh spiritual)

6. Evaluasi gejala keputusasaan, tidak berdaya, penolakan terapi dan perasaan tidak berharga yang menunjukkan gangguan harga diri klien.

Membantu klien dan keluarga memahami masalah yang dihadapinya sebagai langkah awal proses pemecahan masalah.

Efek terapi yang diantisipasi lebih memudahkan proses adaptasi klien terhadap masalah yang mungkin timbul.

Perubahan status kesehatan yang membawa perubahan status sosial-ekonomi-fungsi-peran merupakan masalah yang sering terjadi pada klien keganasan.

Menginformasikan alternatif konseling profesional yang mungkin dapat ditempuh dalam penyelesaian masalah klien.

Mengidentifikasi sumber-sumber pendukung yang mungkin dapat dimanfaatkan dalam meringankan masalah klien.

Menilai perkembangan masalah klien.

3) Nyeri b/d kompresi/destruksi jaringan saraf dan proses inflamasi.

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Lakukan tindakan kenyamanan dasar (reposisi, masase punggung) dan pertahankan aktivitas hiburan (koran, radio)

2. Ajarkan kepada klien manajemen penatalaksanaan nyeri (teknik relaksasi, napas dalam, visualisasi, bimbingan imajinasi)

3. Berikan analgetik sesuai program terapi.

4. Evaluasi keluhan nyeri (skala, lokasi, frekuensi, durasi)

Meningkatkan relaksasi dan mengalihkan fokus perhatian klien dari nyeri.

Meningkatkan partisipasi klien secara aktif dalam pemecahan masalah dan meningkatkan rasa kontrol diri/keman-dirian.

Analgetik mengurangi respon nyeri.

Menilai perkembangan masalah klien.

4) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d peningkatan status metabolik akibat keganasan, efek radioterapi/kemoterapi dan distres emosional.

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Dorong klien untuk meningkatkan asupan nutrisi (tinggi kalori tinggi protein) dan asupan cairan yang adekuat.

2. Kolaborasi dengan tim gizi untuk menetapkan program diet pemulihan bagi klien.

3. Berikan obat anti emetik dan roborans sesuai program terapi.

4. Dampingi klien pada saat makan, identifikasi keluhan klien tentang makan yang disajikan.

5. Timbang berat badan dan ketebalan lipatan kulit trisep (ukuran antropometrik lainnya) sekali seminggu

6. Kaji hasil pemeriksaan laboratorium (Hb, limfosit total, transferin serum, albumin serum)

Asupan nutrisi dan cairan yang adekuat diperlukan untuk mengimbangi status hipermetabolik pada klien dengan keganasan.

Kebutuhan nutrisi perlu diprogramkan secara individual dengan melibatkan klien dan tim gizi bila diperlukan.

Anti emetik diberikan bila klien mengalami mual dan roborans mungkin diperlukan untuk meningkatkan napsu makan dan membantu proses metabolisme.

Mencegah masalah kekurangan asupan yang disebabkan oleh diet yang disajikan.

Menilai perkembangan masalah klien.

Menilai perkembangan masalah klien.

5) Risiko infeksi b/d ketidak-adekuatan pertahanan sekunder dan efek imunosupresi radioterapi/kemoterapi

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Tekankan penting oral hygiene.

2. Ajarkan teknik mencuci tangan kepada klien dan keluarga, tekankan untuk menghindari mengorek/me-nyentuh area luka pada rongga hidung (area operasi).

3. Kaji hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan penurunana fungsi pertahanan tubuh (lekosit, eritrosit, trombosit, Hb, albumin plasma)

4. Berikan antibiotik sesuai dengan program terapi.

5. Tekankan pentingnya asupan nutrisi kaya protein sehubungan dengan penurunan daya tahan tubuh.

6. Kaji tanda-tanda vital dan gejala/tanda infeksi pada seluruh sistem tubuh.

Infeksi pada cavum nasi dapat bersumber dari ketidakadekuatan oral hygiene.

Mengajarkan upaya preventif untuk menghindari infeksi sekunder.

Menilai perkembagan imunitas seluler/ humoral.

Antibiotik digunakan untuk mengatasi infeksi atau diberikan secara profilaksis pada pasien dengan risiko infeksi.

Protein diperlukan sebagai prekusor pembentukan asam amino penyusun antibodi.

Efek imunosupresif terapi radiasi dan kemoterapi dapat mempermudah timbulnya infeksi lokal dan sistemik.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Etiologi tumor ganas hidung belum diketahui, tetapi diduga beberapa zat hasil industri merupakan penyebab antara lain nikel, debu kayu, kulit, formaldehid, kromium, minyak isopropyl dan lain-lain. Pekerja dibidang ini mendapatkan kemungkinan terjadi keganasan hidung dan sinus jauh lebih besar.
Banyak laporan mengenai kasus adeno-karsinoma sinusetmoid pada pekerja-pekerja industri penggergajian kayu dan pembuatan mebel. Alkohol, asap rokok, makanan yang diasin atau diasap diduga meningkatkan kemungkinan terjadi keganasan, sebaliknya buah-buahan dan sayuran mengurangi kemungkinan terjadi keganasan
Gejala tergantung dari asal primer tumor serta arah dan perluasannya. Tumor didalam sinus maxilla biasanya tanpa gejala. Gejala timbul setelah tumor besar, sehingga mendesak atau menembus dinding tulang meluas ke rongga hidung, rongga mulut, pipi, orbita atau intrakranial.

B. Saran
 Mengingat bahwa penyakit tumor rongga hidung merupakan masalah kesehatan masyarakat yang angka mordibilitasnya masih tinggi, maka penulis menyarankan untuk semua perawat jika menemukan kasus tumor rongga hidung secepatnya dirujuk ke rumah sakit ssehingga secepatnya mendapatkan perawatan dan pengobatan yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Adams at al (1997), Buku Ajar Penyakit THT, Ed. 6, EGC, Jakarta

Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed. 6, EGC, Jakarta

Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta

Tim RSUD Dr. Soetomo (1994), Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit THT, RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s